Kamis, 23 Juni 2016

Meraih Keberhasilan Bersama Yesus

Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN, tepat seperti yang dilakukan Amazia, ayahnya. Ia mencari Allah selama hidup Zakharia, yang mengajarnya supaya takut akan Allah. Dan selama ia mencari TUHAN, Allah membuat segala usahanya berhasil.” 2 Tawarikh 26:4-5
Uzia diangkat menjadi raja Yehuda pada saat berumur enam belas tahun. Dan ia memerintah selama lima puluh dua tahun lamanya di Yerusalem. Tuhan menyertai dia dan membuat segala usahanya menjadi berhasil.
*courtesy of PelitaHidup.com
Lima puluh dua tahun bukan merupakan waktu yang sebentar. Pada waktu itu, tidak banyak orang yang bisa menjadi raja dan memerintah cukup lama. Tetapi Uzia melakukannya sejak ia masih muda.
Banyak orang yang merasa bahwa mereka tidak cukup pengalaman dalam menjalankan tugas-tugas yang dibebankan kepada mereka. Mereka merasa tidak mempunyai cukup keahlian, pengetahuan, ketrampilan, kebijaksanaan dalam mengambil keputusan dan masih banyak lagi alasan.
Tidak sedikit juga yang menolak tugas-tugas baru yang diberikan kepada mereka, karena merasa tidak percaya diri dalam menjalankan tanggung jawab yang lebih besar.


Uzia menerima tanggung jawab yang besar pada usia yang masih belia. Tetapi dia tidak takut dan gentar dalam menerima dan menjalankan tugas baru tersebut. Dan kita dapat melihat bahwa dia berhasil memerintah dalam waktu yang cukup lama.
Apa yang menjadi kunci keberhasilan Uzia selama menjadi raja?

1. Melakukan apa yang benar di mata Tuhan

Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN” 2 Tawarikh 26:4a
*courtesy of PelitaHidup.com
Uzia hanya perlu melakukan hal yang benar di mata Tuhan. Dia tidak melihat umurnya sebagai suatu kekurangan. Tetapi dia tetap fokus melakukan apa yang harus dilakukan, yaitu kebenaran. Dengan demikian, Tuhan senantiasa menyertai setiap langkah hidupnya. Musuh-musuh dapat dikalahkan dengan mudah, bahkan mereka gentar terhadap Uzia.
“Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.” Yosua 1:8
*courtesy of PelitaHidup.com
Renungkanlah Firman Tuhan setiap hari, maka kita akan tahu apa yang benar dan berkenan di hadapan Tuhan dan apa yang tidak berkenan di hadapanNya. Lakukanlah apa yang berkenan bagi Tuhan, maka Dia akan menyertai setiap langkah hidup kita.
Dia akan memberi kita hikmat, sehingga kita dapat mengambil keputusan yang tepat di saat-saat yang genting. Dia akan memberikan kita keberanian, sehingga kita dapat melangkah dengan iman untuk meraih keberhasilan. Dan Dia akan memberikan kita keberuntungan, sehingga kita dapat senantiasa berhasil dalam setiap tindakan kita.
.

2. Mencari Tuhan

Ia mencari Allah selama hidup Zakharia, yang mengajarnya supaya takut akan Allah.” 2 Tawarikh 26:5a
Uzia senantiasa mencari Tuhan pada masa pemerintahannya, dan dia belajar untuk takut akan Tuhan. Tuhan menjadi fokus hidupnya selama dia memerintah. Dia mengutamakan Tuhan dalam tiap langkahnya. Dia mengerti bahwa dengan mencari Tuhan, maka dia akan menemukan sumber dari segala hikmat yang pernah ada di muka bumi ini.
Uzia mendapatkan hikmat, kebijaksanaan dan pengetahuan yang dia perlukan untuk memerintah sebagai raja. Semuanya itu dia peroleh dengan cara mencari Tuhan.
Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.” Amsal 1:7
untuk mengetahui hikmat dan didikan, untuk mengerti kata-kata yang bermakna, untuk menerima didikan yang menjadikan pandai, serta kebenaran, keadilan dan kejujuran, untuk memberikan kecerdasan kepada orang yang tak berpengalaman, dan pengetahuan serta kebijaksanaan kepada orang muda–
*courtesy of PelitaHidup.com
baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan– untuk mengerti amsal dan ibarat, perkataan dan teka-teki orang bijak.” Amsal 1:2-6
Kita mungkin tidak memiliki cukup pengetahuan, pengalaman dan kepandaian untuk melakukan suatu tanggung jawab yang besar yang ada di depan kita. Tetapi ketika kita rajin mencari wajah Tuhan, maka Tuhan akan memberikan hikmat dari segala hikmat yang membuat kita dapat menjalankan dan menyelesaikan pekerjaan yang besar.
Tiada yang mustahil bagi Tuhan, Dia akan bekerja di dalam hidup kita, sehingga kita akan sanggup melakukan pekerjaan-pekerjaan yang besar. Jangan takut atas apa yang sedang kita hadapi. Carilah wajah Tuhan, maka Dia akan memberikan keberhasilan bagi tiap langkah hidup kita.
.
Lakukanlah apa yang benar di mata Tuhan dan carilah Tuhan selama Ia masih berkenan ditemui. Maka kita akan melihat banyak pintu-pintu yang dibukakan bagi jalan kita. Kita akan melihat keberhasilan demi keberhasilan di dalam hidup kita. Apa yang kelihatannya mustahil bagi manusia, Tuhan akan membuat menjadi mungkin di dalam hidup kita. Raihlah keberhasilan bersama dengan Tuhan. Haleluya!
“Maka engkau akan berhasil, jika engkau melakukan dengan setia ketetapan-ketetapan dan hukum-hukum yang diperintahkan TUHAN kepada Musa untuk orang Israel. Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan janganlah tawar hati.” 1 Tawarikh 22:13

3 Prinsip Keuangan Sederhana Untuk Mengelola Keuangan Anda dengan Bijak

Orang bijaksana tetap makmur dan kaya; tetapi orang bodoh memboroskan hartanya.” (Amsal 21:20 BIS)
Add caption
Pastor Rick Warren berkata bahwa dalam pelayanannya selama kurang lebih 40 tahun, beliau menyebutkan bahwa masalah keuangan terutama masalah hutang merupakan salah satu masalah utama yang dihadapi oleh banyak orang di seluruh dunia termasuk di dalamnya anak-anak Tuhan.  Bahkan banyak diantara mereka yang terpaksa hancur rumah tangganya karena masalah tersebut.
*courtesy of PelitaHidup.com
Kenyataan ini seharusnya tidak perlu mengejutkan kita. Alkitab dengan jelas menyebutkan dalam ayat di atas bahwa tidak mengelola keuangan dengan bijak adalah sebuah kebodohan. Dan jika kita mengelola keuangan kita dengan sembarangan, maka hasilnya akan sangat buruk bagi kehidupan kita.
Seringkali, budaya konsumerisme yang berkembang dalam masyarakat kita meyakinkan kita untuk membeli sesuatu sekarang dan membayar belakangan. Karenanya, banyak diantara kita yang secara otomatis terlilit hutang karena jumlah dana yang kita belanjakan jauh lebih besar dari kemampuan kita untuk membayarnya. Hal ini oleh Tuhan disebut sebagai kebodohan!
Seseorang tidak dapat begitu saja jatuh atau terlilit hutang, semua berawal dari keputusan yang salah. Jika kita ingin lebih bertanggung jawab dan mengelola keuangan kita dengan bijak, maka kita harus melakukannya dengan niat dan komitmen untuk melakukannya dengan sungguh-sungguh. Setelah kita membuat komitmen penting tersebut, maka kita perlu sebuah rencana untuk mencapai keuangan yang sehat dan diberkati sebagaimana yang Tuhan kehendaki dalam hidup kita.


Prinsip keuangan sederhana yang diterapkan oleh Pastor Rick Warren berikut dapat kita terapkan dalam mengelola keuangan kita dengan lebih bijak.
  1. Kembalikan 10% Kepada Tuhan
Tuhan akan memberkati apapun yang kita persembahkan kepadaNya sebagai yang utama.
  1. Simpan 10% Untuk Diri Sendiri
Miliki komitmen untuk menyimpan sejumlah uang (dalam hal ini minimal 10% dari pendapatan bulanan Anda) sebagai tabungan atau dana tak terduga.
  1. Hiduplah Dengan 80% sisanya
Perhatikan bahwa hanya orang bodoh yang menghabiskan semua pendapatan yang diperolehnya. Jadi dalam hal ini, kita harus mulai berkomitmen untuk ‘mencukupkan’ semua kebutuhan kita dengan apa yang kita miliki. Mungkin kita harus memangkas budget beberapa kebutuhan hidup dan menentukan prioritas kebutuhan yang harus diutamakan. Mungkin juga kita harus ‘berpuasa’ untuk tidak membeli sesuatu yang tidak masuk dalam prioritas kebutuhan kita; masing-masing kita tahu mana yang harus kita utamakan dan mana yang bisa kita kesampingkan sementara sampai kita mencapai kondisi keuangan yang sehat kembali.
“Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.”  Ibrani 13:5
*courtesy of PelitaHidup.com
Perlu kita sadari bahwa Tuhan memakai uang untuk menguji kita; dalam hal ini untuk menguji apakah kita bertanggung jawab dan bijak dengan keuangan kita atau tidak. Jadi, marilah mulai sekarang kita berkomitmen untuk mengelola keuangan kita dengan lebih bijak dan betanggung jawab. Ke-3 prinsip sederhana di atas, dapat membantu kita mengelola keuangan dengan lebih bijak sehingga dapat membantu mewujudkan mimpi kita untuk memiliki keuangan yang stabil dan sehat.


Mari kita mulai dari diri sendiri untuk bertanggung jawab secara finansial kepada Tuhan dengan memberi persepuluhan kepada Tuhan, menabung 10% persen dari pendapatan bulanan kita dan mencukupkan kebutuhan kita dengan apa yang kita miliki.
*courtesy of PelitaHidup.com
Ketika Tuhan melihat komitmen kita untuk mengelola keuangan dengan bijak, maka sepenuh berkat yang sudah Ia sediakan bagi kita akan Ia curahkan pada waktu-Nya. Bersabarlah!

“Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.” Filipi 4:19

Jumat, 17 Juni 2016

PENYESATAN DI AKHIR ZAMAN

Baca:  2 Tesalonika 2:1-12

"Janganlah kamu memberi dirimu disesatkan orang dengan cara yang bagaimanapun juga! Sebab sebelum Hari itu haruslah datang dahulu murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka, yang harus binasa,"  2 Tesalonika 2:3

Selama berada di dunia ini perjalanan hidup kekristenan kita tidak akan selalu berjalan dengan mulus, sebab ada banyak sekali tantangan, rintangan yang selalu menghadang langkah kita.  Faktor-faktor inilah yang membuat banyak orang Kristen tidak lagi fokus kepada tujuan, mata mereka tidak lagi terarah kepada sasaran melainkan mulai menyimpang dari arah yang sesungguhnya.  Ada pula yang terseret arus dunia yang sangat menyesatkan.  Akhir-akhir ini kita sering mendengar kabar atau berita yang aneh-aneh tentang berbagai jenis penyesatan yang menyerang iman Kristen.  Ada gereja-gereja atau persekutuan doa yang tidak lagi memberitakan Injil Kristus secara murni, tetapi Injil sudah diselewengkan dan terkontaminasi dengan logika.

     Sebenarnya kita tidak perlu terkejut lagi karena Alkitab sudah menyatakan jauh sebelumnya bahwa penyesatan, kedurhakaan dan berbagai penyimpangan akan banyak terjadi sebelum hari kedatangan Tuhan tiba, bahkan hal itu tidak lagi dilakukan secara sembunyi-sembunyi melainkan secara terang-terangan.  Mengapa hal ini Tuhan ijinkan terjadi?  Tujuannya adalah untuk menguji iman dan kesungguhan orang percaya dalam mengiring Tuhan.  "Alat penampi sudah ditangan-Nya. Ia akan membersihkan tempat pengirikan-Nya dan mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung, tetapi debu jerami itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan."  (Matius 3:12).

     Bukan waktunya lagi orang Kristen hidup santai-santai.  Mari tingkatkan kualitas iman kita.  Jangan sampai kita terjebak dalam rutinitas ibadah dan pelayanan, melainkan usahakanlah kita benar-benar menjadi pelaku firman, sebab  "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga."  (Matius 7:21).  Salah satu faktor orang Kristen mudah sekali disesatkan dan diombang-ambingkan adalah karena mereka tidak tergembala dengan baik dan tidak tertanam di gereja lokal, yang dikarenakan mereka suka sekali pindah-pindah gereja dan tidak memiliki komitmen!

Tingkatkan ibadah dan tertanamlah di gereja lokal agar tidak mudah disesatkan!

TUHAN MEMANGGIL ORANG BERDOSA

Baca:  Markus 2:13-17

"Ia melihat Lewi anak Alfeus duduk di rumah cukai lalu Ia berkata kepadanya: 'Ikutlah Aku!' Maka berdirilah Lewi lalu mengikuti Dia."  Markus 2:14

Siapakah Lewi?  Lewi adalah nama lain dari Matius.  Dalam bahasa Ibrani Matius berarti pemberian Tuhan.  Ia tinggal di Kapernaum dan ayahnya bernama Alfeus.  Profesi Lewi atau Matius adalah pemungut cukai.  Ia ditunjuk oleh pemerintah Romawi untuk memungut pajak dari masyarakat, dari pedagang dan yang melalui wilayah kerjanya, lalu ia mengambil komisi dari pajak yang dipungutnya itu.

     Kebanyakan pemungut cukai memungut lebih dari yang seharusnya sehingga mereka mendapatkan keuntungan yang jauh lebih besar.  Itulah sebabnya masa itu pemungut cukai dianggap  'setara'  dengan orang-orang yang kotor, hina dan berdosa di mata masyarakat Yahudi karena dianggap sebagai pengkhianat bangsa;  keturunan Yahudi tetapi bekerja dan menjadi antek-antek pemerintahan Romawi.  Mereka diibaratkan  'lintah darat'  yang  'menghisap darah'  bangsanya sendiri dan memihak pemerintahan Romawi.  Tidaklah heran jika pemungut cukai dibenci dan dikucilkan orang-orang sebangsanya.

     Timbul pertanyaan dalam diri orang-orang Yahudi:  apakah tidak salah Tuhan Yesus memanggil orang seperti ini?  Padahal Tuhan sendiri tahu siapa itu Lewi dan apa profesinya, namun Ia justru memanggil orang itu untuk menjadi murid-Nya.  Tindakan Tuhan Yesus yang mau makan bersama dengan Lewi dan para pemungut cukai lainnya tentu mengundang kontroversial, sehingga menimbulkan kecurigaan dan reaksi keras dalam diri ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi yang selalu menganggap diri sendiri paling benar dan suka sekali menghakimi orang lain.  "Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?"  (ayat 16).  Menanggapi hal itu Tuhan Yesus memberikan jawaban yang lebih mencengangkan lagi,  "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa."  (ayat 17).  Tuhan dengan sangat gamblang menjelaskan kepada mereka tentang maksud dan tujuan-Nya datang ke dunia yaitu memanggil orang yang berdosa.

Sebagai Tabib yang ajaib Tuhan Yesus datang untuk mengobati, menyembuhkan dan memulihkan orang-orang yang  'sakit'.